Sabtu, 13 Desember 2008

BALI TAKUT DICAPLOK ASING

BALI TAKUT DICAPLOK ASING

(Orang Bali selalu Takut dengan Perkembangan)

Investasi asing di Bali selalu merupakan fenomena yang terkadang menakutkan khalayak ramai khususnya yang ada di Bali . Ketakutan untuk lahan pertanian yang di kuasai asing sampai kawasan pura yang takut terkontaminasi dari investastor asing yang masuk di Bali .

Tourist destination / tujuan wisata yang paling menarik di sandang Bali selama ini, tentunya Bali mempunyai daya jual yang tidak dimiliki tourist destination lainnya. Dimana Bali memiliki pantai dan peninsula yang menarik sampai daerah entertainment yang dinamis tanpa meninggalkan daya tarik utama yaitu budaya Bali dan panorama yang menarik bagi para pengunjung.

Melihat fenomena itu maka masa depan Bali yang dominan mengandalkan pendapatan dari pariwisata harus menyiapkan segala sesuatu yang menjadi konsekuensi investasi yang ditimbulkan baik ‘aware' kepada hal positif investasi dan juga menjaga kemungkinan hal negatif yang ditimbulkan tanpa over protected yang dapat menyebabkan investasi yang mundur di Bali dan berakibat buruk bagi masyarakat Bali yang mengharapkan pertumbuhan ekonomi.

Dari fenomena itu ada hal dasar yang perlu dipahami, yaitu dimana standarisasi investasi pada bidang pariwisata yang disebut (TSIP) tourism standar investment procedure yang mana implementasinya sering bersumber dari perkembangan investasi bangunan fisik. Kondisi ini membawa kita kepada melihat investasi pariwisata khusus nya bidang investmen.

Pemahaman ini amat mudah dimengerti karena dalil investasi yang terlihat selalu berprinsip kepada sejauh mana investasi pada bidang property yang sudah ada.

Bali mempunyai (TSIP) tourism standard investment procedure yang jelas yang mana bisa dipakai acuan bagi masyarakat dan juga pemerintah untuk melakukan pemetaan perkembangan daerah pariwisata yang sudah berkembang dan yang akan berkembang dan nantinya bisa membuat sebuah “planning” atau perencanaan yang jelas untuk pemetaan investasi dan daerah yang perlu diperhatikan.

TSIP ini tidak lain adalah (water access/jarak pengembangan dengan laut sebagai potensi utama) clift front access/ tebing yang menjadi acuan view yang tidak terhalang atau exclusivity, uninterrupted view/merupakan pemandangan yang tidak terhalang sebagai standar investasi yang utama dan social interactive faktor-faktor hubungan dengan lingkungan yang ada di sekitar daerah pengembangan usaha seperti Ubud, Seminyak dan desa budaya lain. Special rethreat untuk yoga dan lain-lain dan juga kedekatan dengan transportasi yaitu accessibilitas dengan international airport.

Dengan memahami faktor-faktor yang bisa ditimbulkan dari trend perkembangan industri pariwisata di atas, maka diperlukan kiranya pemetaan daerah perkembangan pariwisata tanpa takut atas efek pengembangannya yang meluas secara tidak terduga dan pada akhirnya dapat membuat planning/perencanaan untuk pembangunan Bali ke depan kearah yang lebih baik.

Ada beberapa contoh kongkrit yang bisa diimplementasikan sebagai pergeseran factor standar investasi yang ada, ambillah seperti canggu yang merupakan daerah pengembangan seminyak yang mana bisa prediksi juga perkembangan wilayah yang lain nantinya. Maka acuan ini dapat berfungsi untuk tetap menjaga jalur hijau, kawasan pura tanpa merasa takut atas perkembanganya nantinya.

I Made Ariawan SST.par.MBA

www.forumprobali.org

Jumat, 12 Desember 2008

Tentang Forum Profesional Bali

Pro bali yaitu sebuah forum kumpulan professional yang ada di Bali. Walaupun profesional dalam hal ini menjamah perkembangan dunia kedepan dimana hanya orang profesional dan fokuslah yang bisa survile dalam kehidupan sosial maupun ekonomi.

Menyimak bali merupakan sebuah daerah tujuan wisata maka Forum Pro Bali dengan tujuan sosial membantu menyalurkan dan memberi ide-ide baru tentang sebuah “Future Planning” , conceps dan concern pada kegiatan sosial lainnya seperti menjaga kelestarian Bali (Ajeg Bali), membantu saudara-saudara yang kurang mampu, dan banyak lagi kegiatan lainnya.

Pro Bali didirikan oleh pasangan pengusaha yaitu Bpk. Made Ariawan, SST.Par.MBA dan Ibu Ari Cahyanti, SST.Par.MBA yang bermula dari panggilan hati melihat perkembangan periwisata yang pesat dan kurang terarah (tidak berarti yang ada sekarang tidak baik) tetapi mengarah ke pembangunan yang lebih baik.